Manakib Syeh Muhammah Syarwani Abdan
Kecintaan warga Banjar terhadap ulama kharismatik Banua Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan atau yang lebih akrab disapa dengan Guru Bangil memang sangat luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya puluhan ribu jemaah yang memadati komplek Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Jalan Kauman Kelurahan Bangil Kabupaten Pasuruan Jawa Timur saat mengikuti Peringatan Haul (hari wafat) ke 20 ulama kelahiran Martapura tersebut.
Setiap tahun para pecintanya memperingati meninggalnya kiai haji yang kini memberikan warisan monumental berupa Pondok Pesantren Datuk Kalampayan di Bangil,Jawa Timur.
Seperti Ahad (15/2) kemarin, prosesi haulan ke-20 kalinya, dihadiri tidak kurang dari 10 ribu jemaah ini diisi pembacaan riwayat hidup singkat (manakib) yang dibacakan Ustadz H Mulkani. Di antaranya menurut santri termuda milik almarhum dini adalah, bahwa Al Mukarram KH Muhammad Syarwani Abdan tercatat masih merupakan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau Datuk Kalampayan. Syarawani dilahirkan di Desa Kampung Melayu Ilir Martapura Kalimantan Selatan pada tahun 1913 Masehi. Pada masa usia sekolah, almarhum sempat menempuh pendidikan di Madrasah Darussalam Martapura yang saat itu dipimpin oleh paman beliau sendiri yaitu Al Alimul Allamah KH Muhammad Kasyful Anwar bin H Ismail Almarhum juga belajar dengan para guru dan ulama terkenal lainnya di msanya di Martapura.
Syarwani muda ternyata tidak puas hanya berdiam diri di kampung halaman. Ia ingin memperluas wawasan. Dan Bangil menjadi kota tujuan untuk menuntut ilmu dan sempat belajar kepada beberapa ulama terkenal di kota santri tersebut, selain juga di Pasuruan, seperti KH Muhdar Gondang Bangil, KH Abu Hasan Wetan Angun Bangil, KH Bajuri Bangil, dan KH Ahmad Jufri Pasuruan.
Di usianya yang ke-16 tahun, KH Muhammad Syarwani Abdan berangkat ke Tanah Suci Mekkah untuk menuntut ilmu bersama saudara sepupunya Al Alimul Allamah KH Anang Sya’rani Arif di bawah bimbingan paman beliau sendiri yaitu Al Alimul Allamah KH Muhammad Kasyful Anwar.
Dia dan Anang Sya`rani ternyata anak-anak yang cerdas dan brilian, sehingga hanya dalam beberapa tahun mulai dikenal di antara teman-teman dan para gurunya, sampai-sampai diberikan sebutan sebagai dua mutiara dari Banjar. Syarwani bahkan mendapat kepercayaan untuk mengajar di Masjidil Haram Mekkah selama beberapa tahun.
Waktu terus bergulir, 10 tahun sudah menuntut ilmu di Tanah Suci Mekkah Almukarram, KH Muhammad Syarwani Abdan dan Al Alimul Allamah KH Anang Sya’rani Arif pulang ke Indonesia. Saat berada di tanah air beliau menggelar pengajian majlis ta’lim di rumah dan mengajar di Pesantren Darussalam Martapura.
Sedangkan di Bangil Almukarram KH Muhammad Syarwani Abdan juga menggelar pengajian untuk kalangan umum dan khusus dan juga untuk para kalangan alim ulama di Kota Bangil dan pada tahun 1970 Beliau mendirikan Pondok Pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Datuk Kalampayan Bangil.
Sedangkan di antara karya tulis beliau adalah Kitab Addakhiratussaminah Li Ahlil Istiqamah (Simpanan Berharga bagi Orang yang Istiqomah) yang telah diterbitkan pada tahun 1967 dan sempat dicetak sebanyak 3 kali. Al Mukarram KH Muhammad Syarwani Abdan wafat pada hari Senin tanggal 11 September 1989 pukul 19.00 WIB dalam usia 76 tahun dan dimakamkan di Bangil. Syarawani sudah tiada, namun ia seakan masih hidup dan luar biasa. Lihat saja, peristiwa haul tanggal 15 februari kemarin, saat haul, Ribuan masyarakat dari berbagai daerah di tanah air, termasuk yang datang secara khusus dari Provinsi Kalsel, sejak pagi memadati kawasan komplek Pondok Pesantren Datuk Kalampayan di Bangil Jawa Timur untuk bisa menghadiri dan mengikuti prosesi haul (peringatan hari wafat) ke-20 KH Muhammad Syarwani Abdan Al Banjari.
